FSH SELENGGARAKAN KEGIATAN WORKSHOP EVALUASI KONDISI EKSTERNAL

Bertempat di Hotel Galuh, Prambanan, Klaten, Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) menyelenggarakan kegiatan evaluasi kondisi eksternal selama tiga hari berturut-turut 2 s.d. 5 Maret 2021. Kegiatan workshop kondisi eksternal ini merupakan bahan utama penyusunan laporan evaluasi diri progam studi dan fakultas untuk akreditasi 9 kriteria.

Acara dibuka dan dihadiri oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Dr.Phil. Al Makin, S.Ag., M.A. dan jajaran Pimpinan FSH. Dalam sambutannya Dekan FSH Prof. Dr. Drs. H. Makhrus, S.H., M.Hum. menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda penting guna menyiapkan kualitas kelembagaan guna memenuhi sembilan kriteria akrediasi yang akan datang.

Senada dengan Dekan FSH, Ketua Panitia, Dr. H. Ahmad Bahiej, M.Hum, yang juga Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum dan Keuangan menjelaskan bahwa, maksud adanya kegiatan ini bertujuan memetakan kondisi eksternal yang berpengaruh terhadap eksistensi serta pengambangan Fakultas dan Program Studi (Prodi). Adapun hasil atau output dari kegiatan ini adalah menyiapkan bahan penyusunan Laporan Evaluasi Diri (LED) akreditasi 9 kriteria bagi semua prodi di lingkungan FSH.

Selanjutnya, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Dr.Phil. Al Makin, S.Ag., M.A. mengawali sambutannya yang sekaligus membuka acara dengan bercerita tentang strategi-strategi perang yang pernah terjadi diberbagai peradaban dunia. “Bangsa yang bisa mencapai kemenangan bukan yang hanya memiliki kekuatan dan kecanggihan alat perangnya saja, namun ada faktor lainnya yaitu solidnya antar pasukan”. Kita bukan hendak berperang, tapi dengan tim yang kuat dan solid maka FSH akan mampu mencapai target dan cita-citanya, imbuh Al-Makin.

Selepas pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan reflekasi tantangan perguruan tinggi keagamaan di masa yang akan dating oleh Prof. Purwosantoso, Ph.D (Guru Besar UGM, Rektor UNU Yogyakarta). Dalam uraiannya, Prof. Purwosantoso mengajak civitas akademika untuk melakukan ‘menemukan kembali’ tradisi pengembangan keilmuan Islam. “Perguruan Tinggi Islam harus jelas menempatkan Islam dalam model pendidikannya, apakah ditempatkan sebagai values, spirit keilmuan sehingga bebas mewarnai berbagai aspek, atau menjadi sektor keilmuan yang mengungkung sehingga tidak bisa mewarnai keilmuan lain”, imbunya. (tn/tim)