Dilihat 0 Kali

UIN SUKA

Selasa, 22 September 2026 10:53:00 WIB

Indonesia Kiblat Pendidikan Islam Global; Keberhasilan Dua Universitas Islam Negeri Mensejajarkan Diri Dengan Universitas Dunia.

Hingga saat ini keberadaan perguruan tinggi keagamaan (PTKI) yang dikelola oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (KEMANG RI), masih dipandang sebagai pendidikan kelas dua. Stigma ini juga berakibat pada minimnya keinginan masyarakat secara nasional untuk mengenyam pendidikan agama pada program-program studi yang ditawarkan oleh PTKI. Sejatinya sejarah panjang pendidikan keagamaan di Indonesia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah pendidikan tinggi di Indonesia, namun pada kenyataaannya PTKI menjadi sebuah entitas pendidikan yang seolah-olah tidak memiliki prestis sama sekali dan hampir-hampir tidak menjadi tujuan utama dalam pengembangan wawasan dan pengetahuan di negerinya sendiri. Masih banyak masyarakat beranggpan bahwa belajar Islam harus ke “Timur Tengah”.

Capaian yang diperoleh oleh dua PTKI yang cukup ternama di Indonesia, yaitu Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (peringkat 29) dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (peringkat 37) dalam QS World University Ranking by Subject 2026: Theology, Divinity and Religious Studies. Capaian ini telah mensejajarkan bahkan pendidikan PTKI dengan Univeristas Dunia seperti  Notre Dame, Oxford, dan Harvard. Bahkan kedua PTKI ini menempel ketat Univeristas Al-Azhar Cairo (peringkat 36) sebagai pendidikan keagamaan legendaris dunia, sekaligus juga mengungguli McGill University Canada (peringkat 47) yang juga memiliki Isntitute of Islamic Studies ternama. Artinya reputasi akademik, pengakuan akademisi dunia terhadap kualitas keilmuan, publikasi dan kontribusi, kedua PTKI diakui secara global. Selain itu reputasi lulusan kedua PTKI ini memiliki kompetensi yang tinggi  dan diakui oleh pengguna lulusan (pemerintah, NGO, lembaga riset dll) secara global. Pengakuan ini juga menggambarkan bagaimana pengakuan dunia terhadap hasil karya ilmiah yang dipublikasikan oleh dosen pada kedua perguruan tinggi tertua di Indonesia ini.

Sangat kontras dengan bagaimana usaha pendidikan umum (PTU), terutama untuk meraih peringkat dunia. Hingga saat ini hanya Universitas IPB saja yang mempu menciptakan peringkat 50 dunia untuk sektor pendidikan pertania, selebihnya belum ada PTU yang berhasil menembus pada peringkat 150 besar dunia. Keberhasilan dua PTKI ini sebetulnya menjadi perhatian dari pemerintah untuk mengembangkannya sebagai prioritas pengembangan pendidikan kelas dunia. Artinya keberpihakan anggaran penelitian, yang sebelumnya cukup membuat ‘gap’ yang jauh bila dibandingkan dengan besaran dana hibah penelitian dan pengembangan pendidikan yang dialokasikan pada PTU, kontras dengan dana yang dipeributkan oleh PTKI yang nota bene menggunakan anggaran Kementerian Agama. Belum lagi jumlah PTKI yang lebih banyak dari pada PTU.

Bagi pemerintah keberadaan dua PTKI ini bisa menjadi daya tarik magnetis utama untuk internasionalisasi pendidikan sosial-keagamaan ‘ala-Indonesia’ bagi masyarakat global. Konsekuensi utamanya adalah perlunya kebijakan prioritas bagi peningkatan kualitas penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan pembelajaran melalui kebijakan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan alokasi sumber dana pengembangan kajian-kajian keagamaan nusantara agar mampu memperkokoh eksistensi PTKI di panggung akademik global, dan pada akhirnya PTKI menjadi rujukan studi Islam global. Selain menggandeng lebih banyak kerjasama internasional, pemerintah juga dapat sedikit membuka keran penganggaran pendidikan khusus keagamaan melalui dua PTKI terkemuka guna memperkokoh posisi Indonesia sebagai pusat studi Islam global di bawah kendali Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (DIKTIS-KEMANG RI).

Sementara itu bagi PTKI, hususnya bagi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (peringkat 29) dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (peringkat 37) dan PTKI lainnya, prestasi yang prestius ini menjadi starting point untuk terus meningkatakan kinerja manajemen mutu dan prioritas dalam maksismalisasi penggunaan dana kelola di tengah efisiensi dalam pengelolaan keuangan. Pada aspek manajemen, kedua perguruan tinggi ini harus mampu membangun diferensiasi misi yang jelas, seperti PTKI-penelitian, di mana fokus pengembangannya adalah bagaimana memproduksi ilmu dan pengetahuan, yang selanjutnya dapat memperkokoh posisi sebagai rujukan ilmu keislaman populer dunia. Tantangannya adalah bagaimana prioritas pengembangan mampu didistribusikan dalam program pengembangan lima hingga lima belas tahun ke depan. Fokus pada pencapaian seluruh aspek tridharma pendidikan; penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan pendidikan bagi kepentingan pengembangan ilmu dan rekognisis pengetahuan global. 

Aspek penting lainnya adalah bahwa kedua PTKI; Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta harus berani untuk mengalokasikan sebagaian besar dana kelola tahunannya dalam lima tahun hingga lima belas tahun bagi kepentingan pencapain diferinsiasi misi, yaitu memproduksi pengetahuan global. Dengan demikian road-map otomatis harus segera dibenahi guna mendukung pencapaian rekognisi global dari kedua PTKI ini, dan pada akhirnya dapat memperkua posisi Indonesia sebagai pusat studi Islam dunia.


Abdul Mujib

Dosen Pada Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta